ini yang kami bahas kemarin di Setiap Perempuan.
since Januari saya kembali bersiaran.
tampaknya seperti 'sekali di udara tetap di udara' yaa...
udah sempat cabut trus kembali lagi. i said, siaran itu ngangenin.
kalau dulu nama acaranya Girl's Talk, sekarang diganti Setiap Perempuan.
secara Psikologis, seorang perempuan tepat menikah pada umur 20 s/d 40 tahun.
namun lebih tepatnya lagi adalah saat ia merasa siap untuk menikah.
jadi usia yang tepat adalah saat ia merasa siap.
saya tanya pada psikolognya, gimana kalau umur 19 dan ia merasa siap.
jawabnya adalah...it's okay.
ada yang menikah muda dan ternyata langgeng sampai menua.
secara psikis yang diliat adalah kesiapannya.
lain hal secara fisiologis, sayang sekali dokter taufik ahli obstetri dan ginekologi sedang berhalangan hadir.
jadi dibahaslah dari segi psikologis bersama seorang psikolog, mbak yeni.
kalau seseorang sudah berumur 40 ternyata secara psikologis dia masih dalam usia yang tepat untuk nikah,
tapi kalau secara fisiologis mungkin akan beresiko pada sistem reproduksinya saat ia hamil.
saya pernah baca kalau diusia
18 s/d 22 tahun adalah saatnya untuk mengenal lawan jenis.
kira-kira itu adalah usia anak kuliahan ya. diusia segini silakan untuk lirik-lirik deh.
ketika diusia
23 s/d 27 ia akan mengalihkan perhatian pada ruang lingkup pekerjaan.
mungkin agak susah ngebagi waktu antara ngelirik calon pasangan dengan mencapai karir.
atau mungkin dalam rentang usia ini agak tidak menghiraukan kalimat 'wah..gue belom punya pacar nih'
lagi senang-senangnya menjalani hidup.
nah lalu di usia
28 s/d dead, adalah masa penyesuaian dengan kehidupan.
mungkin di rentang masa inilah akan tiba-tiba muncul kesadaran baru 'wahh..gue masih sendirian ternyata'
hingga dirasa perlu seseorang yang bisa diajak berkompromi dan setia berada disamping kita sampai menua dan dipisahkan oleh kematian.
lalu kemudian bagaimana dengan orang yang di usia 18 s/d 22 terlalu asik berteman
kemudian di usia 23 s/d 27 ia asik meniti dan mengejar karir
lalu di usia 28 dia baru nyadar 'oh my..gue perlu seseorang untuk bikin gue balance'
jangan takut, jangan resah
bukankah secara psikologis umur tepat menikah berujung di usia 40? hehehe
ngomong-ngomong kamu benar-benar merasa jatuh cinta di usia berapa? :)
ada beberapa faktor yang berkaitan dengan kesiapan menikah
1. fisiologis, yang menyatakan seseorang itu sehat atau nggak
2. seksual fitness, seseorang berprilaku seksual menyimpang atau nggak
3. ekonomi, bagaimana menghidupi keluarga
4. agama
5. psikologis, tuntutan saat ini
seksual fitness mengundang pertanyaan saya.
gimana kalau seperti pasangan yang dijodohkan atau perkenalan singkat dan kemudian menikah?
tentu sangat sulit untuk mendeteksi ada atau tidaknya
seksual fitness ini.
mana tahu nanti kalau ternyata pasangannya masochist atau pedofil atau ternyata pasangannya gay, homo atau lesbian.
nah inilah manfaatnya konseling sebelum pernikahan.
atau bisa juga ikut psikotest sebelum menikah.(waaaa..berat juga yaa)
kalau hasil testnya normal sih nggak masalah, nah kalau ketahuan sisi buruknya gimana dong?
nah lagi-lagi dikaitkan dengan masalah kesiapan kan?? siap gak menghadapi kekurangan pasangan?
tapi kemungkinan bisa di therapy kali ya buat yang seksual fitnessnya menyimpang.
disaat on air saya tanya, mungkin nggak sih seseorang itu nggak punya sindrom pranikah?
psikolognya bilang, mungkin aja kalau dia benar-benar siap.
namun di sela iklan saya bilang
'ternyata sindrom pranikah itu ada ya'
'pasti ada...ini paling sering terjadi sama orang yang mandiri'
dan disaat seorang psikolog sudah pergi, tinggal saya dan rekan saya di ruang siaran dan seorang pendengar bertanya.
banyak lelaki yang bilang nanti kalau sudah kawin pasti akan ada aja rejeki yang datang, sementara sekarang lelaki itu belum mapan-mapan amat.
hehhehhehehhe..keknya udah ganti segmen jangan ngobrol perkawinan lagi dong, psikolognya udah pulang kan...??
oke, kalau katanya psikolog, gak mungkin ntar kalau udah nikah mau makan cinta.
gini deh, rejeki kan nggak tahu tuh kapan datangnya.
coba bandingkan si pria bernasib mapan diusia 30, dan ia menikah di usia 27
daripada si pria bernasib mapan diusia 30 dan ia baru akan menikah di usia 33 (atau bahkan lebih)
enakan yang mana tuh???
mana tahu kan kalau pasangan kamu ngajak nikah sekarang dan ia bernasib mapan ditahun depan.
lagipula ukuran mapan itu gimana sih? kalau sekarang mapan dan tahun depan harga melonjak drastis 200% sama aja bohong.
katanya psikolog, dalam sebuah hubungan itu setiap hal adalah belajar.
semua adalah proses.
benar sekali bukan?!
dan menurut saya dengan adanya pernikahan itu artinya
reborn. rekan saya juga setuju.
mulai hidup baru. bener nggak sih? hahha maklumlah kami belum pernah menikah

yang tadinya tinggal di rumah gede milik orang tua, sekarang mulai dari rumah kontrakan.
yang tadinya dikasi duit jajan sama orang tua, sekarang dikasi sama suami, walaupun istrinya kerja toh suami tetap menafkahi dong ya...asik benerrr hehhehe.
yang tadinya tidur sendirian, sekarang tidurnya berdua.
yang tadinya mikir sendirian, sekarang mikirnya berdua.
yang tadinya satu sekarang jadi dua, trus lama-lama jadi tiga, empat, lima dan seterusnya (tergantung ntar punya anak berapa) hehehe.
jadi secara psikologis, berapapun usia kamu ingin menikah yang penting adalah niat dan kesiapan.
sindrom pranikah itu proses kok. ujian kecil.
tidak ataupun merasa cemas...yuk mari ke konseling pernikahan...