“suit…..suit”Ketika seorang perempuan melintas disuatu jalan dan dia di suitin sama seorang lelaki lain
dan tindakan itu cukup mengganggu..maka itu adalah sebuah bentuk pelecehan kecil.
Namun yang kecil-kecil begini kalau dibiarkan bakal membuat kebiasaan buruk semakin berjaya.
Harusnya si perempuan bisa bertindak sebagai pernyataan ketidaksukaan dengan tindakan tersebut.
Seperti sebuah laporan kasus, ketika mau pergi kerja dia (perempuan) selalu melewati sebuah jalan di mana ada kost laki-laki
dan dia sering disuitin sama lelaki situ, hingga ia merasa risih, apalagi dengan embel-embel “cd nya pasti warna pink”.
Sehingga terjadi kebingungan mesti pergi kerja lewat mana biar bebas dari suitan bangsat itu.
Seperti inilah semestinya perempuan berhak ambil tindakan, speak up.
Kok bisa ya ada lelaki seperti itu? Kasus semacam ini juga kadang menimbulkan pertanyaan
‘memangnya kamu pakai baju apa lewat disitu?’ sudah menjadi stereotype masyarakat.
ini loh orang mau pergi kerja, ya pakai seragam kerja dong, lengkap, wajar, tertutup.
Laporin RT kali gak? Atau langsung aja di foto pake kamera tuh orang lalu laporkan ke lembaga yang bisa mendidik otaknya jadi waras.
Tapi walaupun misalnya jika kasus ini mengandung unsur si perempuan pakai pakaian yang sedikit terbuka
apakah jadi wajar atau boleh lelaki melakukan tindakan demikian?
Ada lembaga yang concern sama kasus-kasus semacam ini, PIK (Perempuan Indonesia Keadilan) yang peduli sama perempuan dan anak-anak.
Dari pelecehan tingkat ringan sampai berat, termasuk juga KDRT.
Contoh seperti kasus perkosaan, perempuan tentu saja menjadi korban, tapi untuk kebutuhan investigasi tentu muncul pertanyaan
‘siapa duluan yang membuka kaki anda?’ atau ‘kenapa anda tidak berteriak?’
atau malah ‘apakah anda juga menikmati hubungan itu?’ walah…kalau perempuannya dibawah ancaman gimana tuh?
Kenapa muncul pertanyaan-pertanyaan yang malah bisa mengganggu psikis si korban?
Yang membuat si korban malah menyalahkan dirinya sendiri.
nah untuk kekerasan yang menghantam segi psikis perempuan mungkin tidak keliatan ya biru lebamnya dimana
tapi ini malah yang lebih bahaya, pikiran terganggu, hati perih, merasa terkungkung, bisa gila kali gak?
mungkin seperti sebuah hubungan yang mengharuskan ini itu, atas nama cinta.
namun ketika si perempuan tidak berani untuk berkata tidak maka disaat itulah terjadi kekerasan terhadap perempuan
dalam bentuk halus. ada unsur pemaksaan.
seperti seorang lelaki ingin waktu pacarnya hanya buatnya seorang.
loh bukankah manusia ditakdirkan sebagai makhluk sosial? tidak hanya ketergantungan sama satu orang.
coba deh, kalau lelaki itu minta cuma dirinya seorang yang berhubungan dengan kekasih hatinya,
apakah ia bisa menjadi tukang sayur bagi pacarnya bila si pacar mau belanja buat masak.
apakah ketika pacarnya butuh seorang instruktur ballet apakah si lelaki mengharuskan bahwa dirinyalah yang akan jadi pelatih
sementara ia tidak bisa menari ballet?
hal yang akan susah untuk diselaraskan mungkin adalah mengenai karakter.
mengapa tidak disikapi dengan saling menghormati dan mendukung, bukan malah mengungkung dan membatasi.
pressure yang terus menerus terjadi, jika perempuan tidak berani mengatakan tidak, maka itu akan terus menjadi sebuah tekanan yang membahayakan, yang akan meluap dalam kesempatan tertentu.
lain halnya dengan KDRT, kekerasan dalam rumah tangga.
biasanya perempuan memilih untuk diam adalah karena pertimbangan keluarga.
masalah keluarga tidak pantas dibawa keluar. loh kalau keluarga tidak bisa menyelesaikannya kenapa tidak mencari solusi lain?
toh yang ingin diakhiri bukanlah bentuk keluarga itu namun yang ingin diakhiri adalah kekerasannya.
atau misal, seorang perempuan pekerja yang menjadi ibu rumah tangga yang terpaku mengurus keluarga dan anak akan menjadi ketergantungan penghasilan dengan suami,
sementara si suami kerap melakukan KDRT, lalu dilaporkanlah ke pihak berwajib.
namun dengan pemikiran siapa yang akan menanggung kehidupan dirinya dan anak-anaknya, maka laporan itu dicabut dan kemungkinan KDRT akan terus berlanjut.
sama sekali disini tidak ada ajakan untuk sebuah perceraian. yang ingin diakhiri adalah kekerasan itu sendiri, bukan mengakhiri sebuah hubungan keluarga.
Sekali lagi, KDRT tidak hanya berbentuk kekerasan yang meninggalkan bekas biru lebam, tapi juga bisa pada hal yang menyerang psikis seorang perempuan.
memang, tidak menutup kemungkinan ada perempuan yang melakukan KDRT
tapi bukankah kalau dihitung-hitung selama ini prosentasenya lebih banyak yang menjadi korban adalah perempuan?
mengenai kesetaraan gender, mungkin issue yang sampai saat ini tidak ada habisnya diperdebatkan.
bertentangan dengan ajaran sebuah agama, namun apakah sebuah kekerasan atau pelecehan terhadap perempuan tidak bertentangan?
memang ditetapkan bahwa laki-laki adalah imam, dan dalam pembagian warisan pun perempuan dapat lebih sedikit dari lelaki, namun apakah dengan adanya ketentuan ini berarti perempuan tidak boleh menyuarakan haknya, mencari kebenaran dan keadilan yang seharusnya ia dapatkan? dimana peran lelaki sebagai imam yang melindungi?
tidak cocok dengan budaya timur? namun bukankah yang mencetuskan di sidang PBB mengenai kesetaraan gender adalah bangsa Indonesia?
dengan ketidakcocokan dengan budaya timur apakah itu menandakan perempuan timur bisa diperlakukan seenaknya?
apakah itu menandakan bahwa orang timur sangat gemar berbuat kekerasan?
saya sama sekali bukan aktivis apalagi anggota sebuah lembaga yang concern sama perlindungan perempuan.
cuma menyampaikan isi bincang-bincang santai di sebuah ruangan studio siaran di siang minggu yang cerah
bisakah kita semua saling menghormati?
biru langit dimatamu belum tentu sama dengan biru langit yang ada dimataku.
tapi kita sama-sama bisa merasakan bahwa biru langit itu begitu indah
tanpa menyalahkan biru menurut mataku serta biru menurut matamu.
atas nama cinta bukan berarti ada sebuah komando tanpa diskusi.
atas nama kita bukan berarti kalau yang lainnya tidak setuju maka tidak akan ada kita, bukan?
banyak hal yang membuat kita bersyukur menjadi perempuan.
dan saya bersyukur menjadi seorang perempuan dalam keluarga saya
bersyukur menjadi perempuan dalam lingkungan saya, dan
bersyukur menjadi perempuan dengan keterbatasannya
STOP violence in the homethanks to :sissy siaran duluan dan sabar menunggu keterlambatan setengah jam saya gara-gara si jago mogok ngambek ke studio.
yuda yang akhirnya bersedia men-drop saya dari rumah ke studio walau akhirnya brainstorm kita mengenai band jadi terbengkalai.
big thanks to mbak tini dan mbak olive dari LBH PIK.
serta yang udah nelpon dan sms.