tiara's posts with tag: setiap perempuan

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag setiap perempuan
Blog Entrydibalik Setiap Perempuan : stop violenceFeb 3, '08 10:56 PM
for everyone

“suit…..suit”
Ketika seorang perempuan melintas disuatu jalan dan dia di suitin sama seorang lelaki lain
dan tindakan itu cukup mengganggu..maka itu adalah sebuah bentuk pelecehan kecil.
Namun yang kecil-kecil begini kalau dibiarkan bakal membuat kebiasaan buruk semakin berjaya.
Harusnya si perempuan bisa bertindak sebagai pernyataan ketidaksukaan dengan tindakan tersebut.
Seperti sebuah laporan kasus, ketika mau pergi kerja dia (perempuan) selalu melewati sebuah jalan di mana ada kost laki-laki
dan dia sering disuitin sama lelaki situ, hingga ia merasa risih, apalagi dengan embel-embel “cd nya pasti warna pink”.
Sehingga terjadi kebingungan mesti pergi kerja lewat mana biar bebas dari suitan bangsat itu.
Seperti inilah semestinya perempuan berhak ambil tindakan, speak up.
Kok bisa ya ada lelaki seperti itu? Kasus semacam ini juga kadang menimbulkan pertanyaan
‘memangnya kamu pakai baju apa lewat disitu?’ sudah menjadi stereotype masyarakat.
ini loh orang mau pergi kerja, ya pakai seragam kerja dong, lengkap, wajar, tertutup.
Laporin RT kali gak? Atau langsung aja di foto pake kamera tuh orang lalu laporkan ke lembaga yang bisa mendidik otaknya jadi waras.
Tapi walaupun misalnya jika kasus ini mengandung unsur si perempuan pakai pakaian yang sedikit terbuka
apakah jadi wajar atau boleh lelaki melakukan tindakan demikian?
Ada lembaga yang concern sama kasus-kasus semacam ini, PIK (Perempuan Indonesia Keadilan) yang peduli sama perempuan dan anak-anak.
Dari pelecehan tingkat ringan sampai berat, termasuk juga KDRT.

Contoh seperti kasus perkosaan, perempuan tentu saja menjadi korban, tapi untuk kebutuhan investigasi tentu muncul pertanyaan
‘siapa duluan yang membuka kaki anda?’ atau ‘kenapa anda tidak berteriak?’
atau malah ‘apakah anda juga menikmati hubungan itu?’ walah…kalau perempuannya dibawah ancaman gimana tuh?
Kenapa muncul pertanyaan-pertanyaan yang malah bisa mengganggu psikis si korban?
Yang membuat si korban malah menyalahkan dirinya sendiri.

nah untuk kekerasan yang menghantam segi psikis perempuan mungkin tidak keliatan ya biru lebamnya dimana
tapi ini malah yang lebih bahaya, pikiran terganggu, hati perih, merasa terkungkung, bisa gila kali gak?
mungkin seperti sebuah hubungan yang mengharuskan ini itu, atas nama cinta.
namun ketika si perempuan tidak berani untuk berkata tidak maka disaat itulah terjadi kekerasan terhadap perempuan
dalam bentuk halus. ada unsur pemaksaan.
seperti seorang lelaki ingin waktu pacarnya hanya buatnya seorang.
loh bukankah manusia ditakdirkan sebagai makhluk sosial? tidak hanya ketergantungan sama satu orang.
coba deh, kalau lelaki itu minta cuma dirinya seorang yang berhubungan dengan kekasih hatinya,
apakah ia bisa menjadi tukang sayur bagi pacarnya bila si pacar mau belanja buat masak.
apakah ketika pacarnya butuh seorang instruktur ballet apakah si lelaki mengharuskan bahwa dirinyalah yang akan jadi pelatih
sementara ia tidak bisa menari ballet?
hal yang akan susah untuk diselaraskan mungkin adalah mengenai karakter.
mengapa tidak disikapi dengan saling menghormati dan mendukung, bukan malah mengungkung dan membatasi.


pressure yang terus menerus terjadi, jika perempuan tidak berani mengatakan tidak, maka itu akan terus menjadi sebuah tekanan yang membahayakan, yang akan meluap dalam kesempatan tertentu.

lain halnya dengan KDRT, kekerasan dalam rumah tangga.
biasanya perempuan memilih untuk diam adalah karena pertimbangan keluarga.
masalah keluarga tidak pantas dibawa keluar. loh kalau keluarga tidak bisa menyelesaikannya kenapa tidak mencari solusi lain?
toh yang ingin diakhiri bukanlah bentuk keluarga itu namun yang ingin diakhiri adalah kekerasannya.
atau misal, seorang perempuan pekerja yang menjadi ibu rumah tangga yang terpaku mengurus keluarga dan anak akan menjadi ketergantungan penghasilan dengan suami,
sementara si suami kerap melakukan KDRT, lalu dilaporkanlah ke pihak berwajib.
namun dengan pemikiran siapa yang akan menanggung kehidupan dirinya dan anak-anaknya, maka laporan itu dicabut dan kemungkinan KDRT akan terus berlanjut.
sama sekali disini tidak ada ajakan untuk sebuah perceraian. yang ingin diakhiri adalah kekerasan itu sendiri, bukan mengakhiri sebuah hubungan keluarga.
Sekali lagi, KDRT tidak hanya berbentuk kekerasan yang meninggalkan bekas biru lebam, tapi juga bisa pada hal yang menyerang psikis seorang perempuan.


memang, tidak menutup kemungkinan ada perempuan yang melakukan KDRT
tapi bukankah kalau dihitung-hitung selama ini prosentasenya lebih banyak yang menjadi korban adalah perempuan?
mengenai kesetaraan gender, mungkin issue yang sampai saat ini tidak ada habisnya diperdebatkan.
bertentangan dengan ajaran sebuah agama, namun apakah sebuah kekerasan atau pelecehan terhadap perempuan tidak bertentangan?
memang ditetapkan bahwa laki-laki adalah imam, dan dalam pembagian warisan pun perempuan dapat lebih sedikit dari lelaki, namun apakah dengan adanya ketentuan ini berarti perempuan tidak boleh menyuarakan haknya, mencari kebenaran dan keadilan yang seharusnya ia dapatkan? dimana peran lelaki sebagai imam yang melindungi?
tidak cocok dengan budaya timur? namun bukankah yang mencetuskan di sidang PBB mengenai kesetaraan gender adalah bangsa Indonesia?
dengan ketidakcocokan dengan budaya timur apakah itu menandakan perempuan timur bisa diperlakukan seenaknya?
apakah itu menandakan bahwa orang timur sangat gemar berbuat kekerasan?

saya sama sekali bukan aktivis apalagi anggota sebuah lembaga yang concern sama perlindungan perempuan.
cuma menyampaikan isi bincang-bincang santai di sebuah ruangan studio siaran di siang minggu yang cerah

bisakah kita semua saling menghormati?
biru langit dimatamu belum tentu sama dengan biru langit yang ada dimataku.
tapi kita sama-sama bisa merasakan bahwa biru langit itu begitu indah
tanpa menyalahkan biru menurut mataku serta biru menurut matamu.
atas nama cinta bukan berarti ada sebuah komando tanpa diskusi.
atas nama kita bukan berarti kalau yang lainnya tidak setuju maka tidak akan ada kita, bukan?


banyak hal yang membuat kita bersyukur menjadi perempuan.
dan saya bersyukur menjadi seorang perempuan dalam keluarga saya
bersyukur menjadi perempuan dalam lingkungan saya, dan
bersyukur menjadi perempuan dengan keterbatasannya


STOP violence in the home


thanks to :
sissy siaran duluan dan sabar menunggu keterlambatan setengah jam saya gara-gara si jago mogok ngambek ke studio.
yuda yang akhirnya bersedia men-drop saya dari rumah ke studio walau akhirnya brainstorm kita mengenai band jadi terbengkalai.
big thanks to mbak tini dan mbak olive dari LBH PIK.
serta yang udah nelpon dan sms.


Blog EntryEvery Woman, any comment?Jan 31, '08 3:19 AM
for everyone
the next topic untuk Setiap Perempuan adalah ;
pelecehan seksual yang kadang terjadi di mana pun kita (perempuan) berada. kali ini sedikit dicerutkan lokasinya, yaitu kantor.
namun bisa saja ini akan berkembang menjadi ruang lingkup yang general, tidak hanya di kantor, tapi juga lingkungan lainnya..rumah, sekolah, kampus, jalanan, dan di sini atau di sana...


"Secara umum yang dimaksud dengan pelecehan seksual adalah segala macam bentuk perilaku yang berkonotasi atau mengarah kepada hal-hal seksual yang dilakukan secara sepihak dan tidak diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran, sehingga menimbulkan reaksi negatif seperti malu, marah, benci, tersinggung, dan sebagainya pada diri individu yang menjadi korban pelecehan tersebut"


tapi kebanyakan yang sering dipersalahkan dalam hal ini adalah si korban.
sudah jatuh tertimpa tangga trus gak ada yang nolongin pula.
miris.


every sunday
12 00 til 02 00 pm
SETIAPEREMPUAN


Blog Entrydi balik Setiap PerempuanJan 28, '08 11:04 PM
for everyone


ini yang kami bahas kemarin di Setiap Perempuan.
since Januari saya kembali bersiaran.
tampaknya seperti 'sekali di udara tetap di udara' yaa...
udah sempat cabut trus kembali lagi. i said, siaran itu ngangenin.

kalau dulu nama acaranya Girl's Talk, sekarang diganti Setiap Perempuan.

secara Psikologis, seorang perempuan tepat menikah pada umur 20 s/d 40 tahun.
namun lebih tepatnya lagi adalah saat ia merasa siap untuk menikah.
jadi usia yang tepat adalah saat ia merasa siap.
saya tanya pada psikolognya, gimana kalau umur 19 dan ia merasa siap.
jawabnya adalah...it's okay.
ada yang menikah muda dan ternyata langgeng sampai menua.
secara psikis yang diliat adalah kesiapannya.
lain hal secara fisiologis, sayang sekali dokter taufik ahli obstetri dan ginekologi sedang berhalangan hadir.
jadi dibahaslah dari segi psikologis bersama seorang psikolog, mbak yeni.
kalau seseorang sudah berumur 40 ternyata secara psikologis dia masih dalam usia yang tepat untuk nikah,
tapi kalau secara fisiologis mungkin akan beresiko pada sistem reproduksinya saat ia hamil.

saya pernah baca kalau diusia 18 s/d 22 tahun adalah saatnya untuk mengenal lawan jenis.
kira-kira itu adalah usia anak kuliahan ya. diusia segini silakan untuk lirik-lirik deh.
ketika diusia 23 s/d 27 ia akan mengalihkan perhatian pada ruang lingkup pekerjaan.
mungkin agak susah ngebagi waktu antara ngelirik calon pasangan dengan mencapai karir.
atau mungkin dalam rentang usia ini agak tidak menghiraukan kalimat 'wah..gue belom punya pacar nih'
lagi senang-senangnya menjalani hidup.
nah lalu di usia 28 s/d dead, adalah masa penyesuaian dengan kehidupan.
mungkin di rentang masa inilah akan tiba-tiba muncul kesadaran baru 'wahh..gue masih sendirian ternyata'
hingga dirasa perlu seseorang yang bisa diajak berkompromi dan setia berada disamping kita sampai menua dan dipisahkan oleh kematian.
lalu kemudian bagaimana dengan orang yang di usia 18 s/d 22 terlalu asik berteman
kemudian di usia 23 s/d 27 ia asik meniti dan mengejar karir
lalu di usia 28 dia baru nyadar 'oh my..gue perlu seseorang untuk bikin gue balance'
jangan takut, jangan resah
bukankah secara psikologis umur tepat menikah berujung di usia 40? hehehe
ngomong-ngomong kamu benar-benar merasa jatuh cinta di usia berapa? :)

ada beberapa faktor yang berkaitan dengan kesiapan menikah
1. fisiologis, yang menyatakan seseorang itu sehat atau nggak
2. seksual fitness, seseorang berprilaku seksual menyimpang atau nggak
3. ekonomi, bagaimana menghidupi keluarga
4. agama
5. psikologis, tuntutan saat ini

seksual fitness mengundang pertanyaan saya.
gimana kalau seperti pasangan yang dijodohkan atau perkenalan singkat dan kemudian menikah?
tentu sangat sulit untuk mendeteksi ada atau tidaknya seksual fitness ini.
mana tahu nanti kalau ternyata pasangannya masochist atau pedofil atau ternyata pasangannya gay, homo atau lesbian.
nah inilah manfaatnya konseling sebelum pernikahan.
atau bisa juga ikut psikotest sebelum menikah.(waaaa..berat juga yaa)
kalau hasil testnya normal sih nggak masalah, nah kalau ketahuan sisi buruknya gimana dong?
nah lagi-lagi dikaitkan dengan masalah kesiapan kan?? siap gak menghadapi kekurangan pasangan?
tapi kemungkinan bisa di therapy kali ya buat yang seksual fitnessnya menyimpang.


disaat on air saya tanya, mungkin nggak sih seseorang itu nggak punya sindrom pranikah?
psikolognya bilang, mungkin aja kalau dia benar-benar siap.

namun di sela iklan saya bilang
'ternyata sindrom pranikah itu ada ya'
'pasti ada...ini paling sering terjadi sama orang yang mandiri'

dan disaat seorang psikolog sudah pergi, tinggal saya dan rekan saya di ruang siaran dan seorang pendengar bertanya.
banyak lelaki yang bilang nanti kalau sudah kawin pasti akan ada aja rejeki yang datang, sementara sekarang lelaki itu belum mapan-mapan amat.
hehhehhehehhe..keknya udah ganti segmen jangan ngobrol perkawinan lagi dong, psikolognya udah pulang kan...??

oke, kalau katanya psikolog, gak mungkin ntar kalau udah nikah mau makan cinta.
gini deh, rejeki kan nggak tahu tuh kapan datangnya.
coba bandingkan si pria bernasib mapan diusia 30, dan ia menikah di usia 27
daripada si pria bernasib mapan diusia 30 dan ia baru akan menikah di usia 33 (atau bahkan lebih)
enakan yang mana tuh???
mana tahu kan kalau pasangan kamu ngajak nikah sekarang dan ia bernasib mapan ditahun depan.
lagipula ukuran mapan itu gimana sih? kalau sekarang mapan dan tahun depan harga melonjak drastis 200% sama aja bohong.

katanya psikolog, dalam sebuah hubungan itu setiap hal adalah belajar.
semua adalah proses.
benar sekali bukan?!

dan menurut saya dengan adanya pernikahan itu artinya reborn. rekan saya juga setuju.
mulai hidup baru. bener nggak sih? hahha maklumlah kami belum pernah menikah
yang tadinya tinggal di rumah gede milik orang tua, sekarang mulai dari rumah kontrakan.
yang tadinya dikasi duit jajan sama orang tua, sekarang dikasi sama suami, walaupun istrinya kerja toh suami tetap menafkahi dong ya...asik benerrr hehhehe.
yang tadinya tidur sendirian, sekarang tidurnya berdua.
yang tadinya mikir sendirian, sekarang mikirnya berdua.
yang tadinya satu sekarang jadi dua, trus lama-lama jadi tiga, empat, lima dan seterusnya (tergantung ntar punya anak berapa) hehehe.


jadi secara psikologis, berapapun usia kamu ingin menikah yang penting adalah niat dan kesiapan.
sindrom pranikah itu proses kok. ujian kecil.
tidak ataupun merasa cemas...yuk mari ke konseling pernikahan...



© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help