tiara's posts with tag: untold story

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag untold story
Blog EntryChairil AnwarJul 24, '07 3:14 AM
for everyone
Chairil lahir di Medan, 26 Juli 1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup

berantakan. Orang tuanya bercerai, dan ayahnya kawin lagi. Setelah perceraian itu, saat usai SMA, Chairil ikut ibunya ke Jakarta.

Masa kecil di Medan, Chairil sangat dekat dengan neneknya. Kedekatan ini begitu berkesan bagi Chairil. Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:

Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta


Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa membilang nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda keberpihakan akan nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acap kehilangan sosoknya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada sang ibu.

Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil menikah.

Pernikahan itu tak berumur panjang. Karena kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah mengajukan cerai. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda.

Tak lama setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa versi tentang sakitnya. Tapi yang pasti, TBC kronis dan sipilis.

Umur Chairil memang pendek, 27 tahun. Tapi kependekan itu meninggalkan banyak hal bagi perkembangan kesusastraan Indonesia. Dia bahkan menjadi contoh terbaik, untuk sikap yang tidak bersetengah-setengah di dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang membuat anaknya, Evawani Chairil Anwar, seorang notaris di Bekasi, harus meminta maaf, saat mengenang kematian ayahnya, di tahun 1999, "SAYA minta maaf, karena kini saya hidup di suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil Anwar."


Blog EntryKarl MayJul 24, '07 2:57 AM
for everyone


Karl May? Siapa dia, yang mampu membuat Hitler membungkuk kagum?

Tentu, nama itu agak asing bagi Anda. Tapi di pertengahan tahun 70-an ke bawah, hampir dipastikan, setiap pelahap buku mengenal nama ini, lewat dongengnya yang ajaib tentang petualangan Old Shatterhand di rimba suku Apache, bersama kepala suku itu, Winnetou.


Karl lahir 25 Februari 1842, di desa Upper Bavaria, 15 kilometer dari Hohenstein-Ernstthal, dekat Dresden, Jerman. Ayahnya, Heinrich August hanya seorang tukang tenun miskin, dan ibunya, Christiane Wilhelmine, cuma bidan kampung, yang justru tak tahu cara mengurus anak. Akibatnya, Karl kecil hidup sengsara, di rumah yang kotor, dan kekurangan vitamin. Empat tahun penyakit xeroptalmia, kebutaan ringan, menyerangnya.

1860, Karl ditolak menjadi guru di sebuah seminari. Setahun berikutnya, dia meneruskan sekolah, tapi sebuah fitnah jatuh. Tuduhan mencuri jam tangan, menyeret lelaki ceking ini ke penjara.

Penderitaan selama muda, dan enam minggu di penjara, ditambah cemoohan keluarga, adalah pengalaman yang tak tertanggungkan. Karl pun kehilangan pegangan, jiwanya rusak. Dia menderita dissaciative identity disorder atau kini populer dengan multiple personality disorder, keterpecahan jiwa. Hebatnya, di dalam tubuh ringkih itu bersemayam 8 karakter manusia, yang acap saling bentrok.

Karl berusaha mengendalikan pertarungan 8 karakter itu. Ia menggeluti musik dan menulis. Tapi, tekanan karakter itu justru menuntunnya jadi pencuri. Dia sempat dipenjara untuk proses psikoterapi sampai dua kali, 1865-1868, dan 1870-1874.

1877, karya pertama Karl, Die Rose von Kahira: Eine Morgenlandische Erzahlung terbit. Buku itu memuat petualangan Kara Ben Nemsi dan Haji Halef Omar di Timur Tengah. 1893, karya monumentalnya keluar, seri Winnetou yang selalu dibantu Old Shatterhand, yang langsung memikat jutaan pembacanya. Tak heran, di seri-seri berikutnya, Old Shatterhand pun bahkan menjelajah lebih jauh lagi, sampai ke pelosok-pelosok Balkan.

Pujian dan kekaguman pembacanya itu membuat Karl kecut untuk mengakui bukunya hanya mainan imajinasi. Karl pun mengakui itu sebagai pengalaman pribadi. Dan untuk mendukung kebohongannya itu, di tahun 1899, setelah kaya raya, ia berkelana ke Kairo, Sungai Nil, Aswan, Skelal, Port Said, Beirut, Jerusalem, Suez, sampai pulau Sumatera. Dan selama pengembaraan itu, Karl selalu mengambil cinderamata yang kelak dia katakan, tandamata dari petualangannya bersama Winnetou. Sayang, selama perjalanan ini, pers Jerman berhasil mengungkap kejahatannya, dan kehidupannya di penjara.

Bahkan, saat dia ke Istambul 1900, berita pers itu terus mengejarnya, sehingga istrinya meminta cerai. Karl amat terpukul. Tapi seorang janda dari klan Plohn, Klara, akhirnya mau menerima masa lalu Karl dan menikahinya.
1910, paru-paru Karl bermasalah. Ternyata dia mengidap kanker paru, namun menolak untuk menjalani rawat kesehatan di daerah Selatan Jerman, yang udaranya amat baik. "Jiwa petualangku tak mengizinkanku itu melakukan itu," tolak Karl. Kebohongan yang luar biasa!

Akhirnya, 30 Maret 1912, paru-paru yang soak itu tak mampu lagi menapasi tubuhnya. Sebelum napasnya timpas, dia sempat membisikkan "Victory, a great victory! I see everthing rose red...."

Ya, Karl mati dengan bangga, karena tahu, 73 novelnya telah dikopi ratusan juta, dan telah diterjemahkan lebih dari 30 bahasa. Prestasi luar biasa, dari seorang pembual, yang mengalami keterpecahan jiwa


Blog EntryLeo TolstoyJul 24, '07 2:40 AM
for everyone

"KINI
akhir itu telah datang, usai sudah." Dari bibir Tolstoy yang bergetar memucat, kata-kata itu lirih terucap. Di sampingnya, Tatyana, anak sulung Tolstoy, pias. Ia coba lepaskan genggaman tangan ayahnya, untuk mencari dokter di ruang lain, tapi Tolstoy merapatkan genggamannya.

Jerit Tatyanalah yang memanggil dokter, menyuntik, dan sesaat kemudian, seperti mendapat darah baru, Tolstoy seperti bugar, mengangkat kepala, dan mencoba duduk.

"Ada jutaan orang dan banyak penderitaan di muka bumi, mengapa engkau begitu mencemaskanku?" gugatnya, di sesela sengal.

Kematian bagi Tolstoy bukanlah hantu. Telah lama ia mempersiapkan "kekalahan yang tertunda" itu. Dua setengah tahun sebelumnya, ketika para pengikutnya di St. Petersbuburg membentuk panitia untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-80, ia melarang, dan meminta persiapan itu dihentikan. Ia, saat itu, mengucapkan tentang kematiannya yang sudah kian rapat, dan menerakan aroma kebencian di Rusia berkaitan dengan rencana perayaan itu. "Aku tak ingin menambah kebencian dan dendam di dunia ini," ucapnya. Dan panitia ultah itu pun patuh.

Bagi pengarang ini, yang menakutkan dari kematian bukanlah kesakitan dan penderitaan, keduanya bisa absen dari kematian. Ketakutan dari kematian lebih karena pupusnya eksistensi seseorang, berakhirnya seluruh pikiran, perasaan, imajinasi dan hasrat, sementara dunia tetap berputar. Bagi dia, "kematian adalah momen terpenting kehidupan, titik berhenti dan kembalinya diri kepada sumber".


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help